Rabu, 01 Mei 2013

Alat Peraga dan Media Pembelajaran


“ Alat Peraga & Media Pemebelajaran “
A.     Pengertian Alat Peraga
Ø Alat peraga adalah suatu alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga dengan tujuan membantu guru agar proses belajar mengajar siswa lebih efektif dan efisien (Sudjana, 2002 :59 ).
Ø Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Proses belajar mengajar ditandai dengan adanya beberapa unsur antara lain tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi. Unsur metode dan alat merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau tehnik untuk mengantarkan sebagai bahan pelajaran agar sampai tujuan. Dalam pencapain tersebut, peranan alat Bantu atau alat peraga memegang peranan yang penting sebab dengan adanya alat peraga ini bahan dengan mudah dapat dipahami oleh siswa. Alat peraga sering disebut audio visual, dari pengertian alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga. Alat tersebut berguna agar pelajaran yang disampaikan guru lebih mudah dipahami oleh siswa. Dalam proses belajar mengajar alat peraga dipergunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien.

B.       Sifat Alat Peraga
Ruseffendi (dalam darhim,1998 6:14 ) menyatakan bahwa alat peraga yang di gunakan harus memiliki sifat sebagai berikut:
  1. Tahan lama (terbuat dari bahan yang cukup kuat ).
  2. Bentuk dan warnanya menarik.
  3. Sederhana dan mudah di kelola (tidak rumit ).
  4. Ukurannya sesuai (seimbang )dengan ukuran fisik anak.
  5. Dapat mengajikan konsep matematika (tidak mempersulit pemahaman)
  6. Sesuai dengan konsep pembelajaran.
  7. Dapat memperjelas konsep (tidak mempersulit pemahaman )
  8. Peragaan itu supaya menjadi dasar bagi tumbuhnya konsep berpikir yang abstrak bagi siswa.
  9. Bila kita mengharap siswa belajar aktif (sendiri atau berkelompok ) alat peraga itu supaya dapat di manipulasikan , yaitu: dapat diraba, dipegang, dipindahkan, dimainkan, dipasangkan, dicopot, (diambil dari susunannya ) dan lain-lain.
  10. Bila mungkin alat peraga tersebut dapat berfaedah lipat (banyak ).

A.      Tujuan Alat Peraga
1.                                                                            Memperkenalkan, membentuk, memperkaya, serta memperjelas
2.                                                                            Mengembangkan sikap yang di kehendaki
3.                                                                            Mendorong kegiatan siswa lebih lanjut
4.    Merangsang imajinasi anak dan memberikan kesan yang mendalam dalam mengajar, panca indra dan seluruh kesanggupan seorang anak perlu  dirangsang, digunakan dan libatkan, sehingga tak hanya mengetahui, melainkan dapat memakai dan melakukan apa yang dipelajari.

B.       Jenis - jenis Alat Peraga
Ø Menurut R. Ibrahim dan Nana Syaodih S.
Ada 2 jenis alat pengajaran yaitu bersifat umum dan khusus
b.    Alat pengajaran bersifat umum
Alat – alat pengajaran yang penggunaannya berlaku untuk semua mata pelajaran seperti papan tulis, kapur, spidol dan penggaris.
c.    Alat pengajaran bersifat khusus
Alat – alat pengajaran yang penggunaannya berlaku khusus untuk mata pelajaran tertentu seperti mikroskop untuk IPA, jangka untuk Matematika dan kuas untuk Seni menggambar.

E. Kelebihan dan kekurangan penggunaan alat peraga
Ø Adapun kelebihan dan kekurangan penggunaan alat peraga dalam pengajaran yaitu:
1.    Menumbuhkan minat belajar siswa karena pelajaran menjadi lebih menarik
2.    Memperjelas makna bahan pelajaran sehingga siswa lebih mudah memahaminya
3.    Metode mengajar akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak akan mudah bosan 
4.    Membuat lebih aktif melakukan kegiatan belajar seperti :mengamati, melakukan dan mendemonstrasikan dan sebagainya.
Ø Kekurangan alat peraga yaitu: 
1.    Mengajar dengan memakai alat peraga lebih banyak menuntuk guru.
2.    Banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan 
3.    Perlu kesediaan berkorban secara materiil
F.Pemilihan Alat Peraga
Lima hal yang harus di perhatikan oleh guru yakni: tujuan, materi pelajaran, strategi belajar mengajar, kondisi dan siswa yang belajar serta perlu waspada, sehingga tidak memakai media mengajar yang tidak begitu kecil, sehingga anak sulit melihat dan menjadi ribut.

































DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim,R, Nana Syaodih S. 2010. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Sudjana Nana dan Rivai Ahmad, 1991. Media Pengajaran, Sinar Baru  Algensindo:Bandung

Kata Kerja Operasional


“ Kata Kerja Operasional (KKO)

A.   Awal Mula Penemuan Kata Kerja Operasional Taksonomi Bloom
Kata Kerja Operasional dapat di gunakan untuk menyususn RPP meliputi tujuan pembelajaran dan indicator. Kata kerja operasional yang sering di gunakan dalam penyususnan RPP adalah kata kerja operasional Taksonomi Bloom.
Ketiga aspek mulai dari kognitif, afektif dan psikomotor tidak dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:
a) Ranah proses berfikir (cognitive domain)
b) Ranah nilai atau sikap (affective domain)
c) Ranah keterampilan (psychomotor domain)
B . Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Taksonomi Bloom yang Belum di Revisi
1. Ranah Kognitif ( C1 – C6 )
Pengetahuan (C1)
Pemahaman (C2)
Penerapan (C3)
Analisis (C4)
Sintesis (C5)
Penilaian (C6)
Mengutip
Memperkirakan
Menugaskan
Menganalisis
Mengabstraksi
Membandingkan
Menyebutkan
Menjelaskan
Mengurutkan
Mengaudit
Mengatur
Menyimpulkan
Menjelaskan
Mengkategorikan
Menentukan
Memecahkan
Menganimasi
Menilai
Menggambar
Mencirikan
Menerapkan
Menegaskan
Mengumpulkan
Mengarahkan
Membilang
Merinci
Menyesuaikan
Mendeteksi
Mengkategorikan
Mengkritik
Mengidentiflkasi
Mengasosiasikan
Mengkalkulasi
Mendiagnosis
Mengkode
Menimbang
Mendaftar
Membandingkan
Memodifikasi
Menyeleksi
Mengkombinasikan
Memutuskan
Menunjukkan
Menghitung
Mengklasifikasi
Memerinci
Menyusun
Memisahkan
Memberi label
Mengkontrasikan
Menghitung
Menominasikan
Mengarang
Memprediksi
Memberi indek
Mengubah
Membangun
Mendiagramkan
Membangun
Memperjelas
Memasangkan
Mempertahankan
Mengurutkan
Mengkorelasikan
Menanggulangi
Menugaskan
Menamai
Menguraikan
Membiasakan
Merasionalkan
Menghubungkan
Menafsirkan
Menandai
Menjalin
Mencegah
Menguji
Menciptakan
Mempertahankan
Membaca
Membedakan
Menentukan
Mencerahkan
Mengkreasikan
Memerinci
Menyatakan
Mendiskusikan
Menggambarkan
Menjelajah
Mengoreksi
Mengukur
Menghafal
Menggali
Menggunakan
Membagankan
Merancang
Merangkum
Meniru
Mencontohkan
Menilai
Menyimpulkan
Merencanakan
Membuktikan
Mencatat
Menerangkan
Melatih
Menemukan
Mendikte
Memvalidasi
Mengulang
Mengemukakan
Menggali
Menelaah
Meningkatkan
Mengetes
Mereproduksi
Mempolakan
Mengemukakan
Memaksimalkan
Memperjelas
Mendukung
Meninjau
Memperluas
Mengadaptasi
Memerintahkan
Memfasilitasi
Memilih
Memilih
Menyimpulkan
Menyelidiki
Mengedit
Membentuk
Memproyeksikan
Menyatakan
Meramalkan
Mengoperasikan
Mengaitkan
Merumuskan

Mempelajari
Merangkum
Mempersoalkan
Memilih
Menggeneralisasi

Mentabulasi
Menjabarkan
Mengkonsepkan
Mengukur
Menggabungkan

Memberi kode

Melaksanakan
Melatih
Memadukan

Menelusuri

Meramalkan
Mentransfer
Membatasi

Menulis

Memproduksi

Mereparasi



Memproses





Mengaitkan

Menampilkan



Mensuimulasikan

Menyiapkan



Memecahkan

Memproduksi



Melakukan

Merangkum



Mentabulasi

Merekonstruksi



Menyusun





Memproses





meramalkan



Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:
·       Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat - ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah.
·       Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi.  Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
·       Penerapan (application)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.
·       Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.
·       Sintesis (syntesis)
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis.
·       Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide.
2. Ranah Afektif (A1 – A5)
Menerima (Al)
Menanggapi (A2)
Menilai (A3)
Mengelola (A4)
Menghayati (A5)
Memilih
Menjawab
Mengasumsikan
Menganut
Mengubah prilaku
Mempertanyakan
Mem bantu
Meyakini
Mengubah
Berakhlak mulia
Mengikuti
Mengajukan
Melengkapi
Menata
Mempengaruhi
Memberi
Mengkompromikan
Meyakinkan
Mengklasifikasikan
Mendengarkan
Menganut
Menyenangi
Memperjelas
Mengkombinasikan
Mengkualifikasi
Mematuhi
Menyambut
Memprakarsai
Mempertahankan
Melayani
Meminati
Mendukung
Mengimani
Membangun
Menunjukkan

Mendukung
Mengundang
Membentuk pendapat
Membuktikan

Menyetujui
Menggabungkan
Memadukan
memecahkan

Menampilkan
Memperjelas
Mengelola


Melaporkan
Mengusulkan
Menegosiasi


Memilih
Menekankan
Merembuk


Mengatakan
Menyumbang



Memilah




Menolak



3. Ranah Psikomotor (P1 – P4)
PENIRUAN (PI)
MANIPULASI (P2)
KETETAPAN (P3)
ARTIKULASI (P4)
Mengaktifkan
Mengoreksi
Mengalihkan
Mengalihkan
Menyesuaikan
Mendemonstrasikan
Menggantikan
Mempertajam
Menggabungkan
Merancang
Memutar
Membentuk
Melamar
Memilah
Mengirim
Memadankan
Mengatur
Melatih
Memindahkan
Menggunakan
Mengumpulkan
Memperbaiki
Mendorong
Memulai
Menimbang
Mengidentifikasikan
Menarik
Menyetir
Memperkecil
Mengisi
Memproduksi
Menjelaskan
Membangun
Menempatkan
Mencampur
Menempel
Mengubah
Membuat
Mengoperasikan
Menskestsa
Membersihkan
Memanipulasi
Mengemas
Mendengarkan
Memposisikan
Mereparasi
Membungkus
Menimbang
Mengkonstruksi
Mencampur


C.  Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Taksonomi Bloom yang Sudah di Revisi
Pada taksonomi bloom hasil revisi hanya ranah kognitif yang mengalami perubahan
      i.          Ranah Kognitif ( C1 – C6 )
Pada ranah kognitif ada perubahan yaitu Mencipta atau Sistesis menjadi C6 yang semula C5 dan Penilaian atau Evaluasi menjadi C5 yang semula C6.
Pengetahuan (C1)
Pemahaman (C2)
Penerapan (C3)
Analisis (C4)
Mencipta atau Sintesis (C6)
Penilaian atau Evaluaai (C5)
Mengutip
Memperkirakan
Menugaskan
Menganalisis
Mengabstraksi
Membandingkan
Menyebutkan
Menjelaskan
Mengurutkan
Mengaudit
Mengatur
Menyimpulkan
Menjelaskan
Mengkategorikan
Menentukan
Memecahkan
Menganimasi
Menilai
Menggambar
Mencirikan
Menerapkan
Menegaskan
Mengumpulkan
Mengarahkan
Membilang
Merinci
Menyesuaikan
Mendeteksi
Mengkategorikan
Mengkritik
Mengidentiflkasi
Mengasosiasikan
Mengkalkulasi
Mendiagnosis
Mengkode
Menimbang
Mendaftar
Membandingkan
Memodifikasi
Menyeleksi
Mengkombinasikan
Memutuskan
Menunjukkan
Menghitung
Mengklasifikasi
Memerinci
Menyusun
Memisahkan
Memberi label
Mengkontrasikan
Menghitung
Menominasikan
Mengarang
Memprediksi
Memberi indek
Mengubah
Membangun
Mendiagramkan
Membangun
Memperjelas
Memasangkan
Mempertahankan
Mengurutkan
Mengkorelasikan
Menanggulangi
Menugaskan
Menamai
Menguraikan
Membiasakan
Merasionalkan
Menghubungkan
Menafsirkan
Menandai
Menjalin
Mencegah
Menguji
Menciptakan
Mempertahankan
Membaca
Membedakan
Menentukan
Mencerahkan
Mengkreasikan
Memerinci
Menyatakan
Mendiskusikan
Menggambarkan
Menjelajah
Mengoreksi
Mengukur
Menghafal
Menggali
Menggunakan
Membagankan
Merancang
Merangkum
Meniru
Mencontohkan
Menilai
Menyimpulkan
Merencanakan
Membuktikan
Mencatat
Menerangkan
Melatih
Menemukan
Mendikte
Memvalidasi
Mengulang
Mengemukakan
Menggali
Menelaah
Meningkatkan
Mengetes
Mereproduksi
Mempolakan
Mengemukakan
Memaksimalkan
Memperjelas
Mendukung
Meninjau
Memperluas
Mengadaptasi
Memerintahkan
Memfasilitasi
Memilih
Memilih
Menyimpulkan
Menyelidiki
Mengedit
Membentuk
Memproyeksikan
Menyatakan
Meramalkan
Mengoperasikan
Mengaitkan
Merumuskan

Mempelajari
Merangkum
Mempersoalkan
Memilih
Menggeneralisasi

Mentabulasi
Menjabarkan
Mengkonsepkan
Mengukur
Menggabungkan

Memberi kode

Melaksanakan
Melatih
Memadukan

Menelusuri

Meramalkan
Mentransfer
Membatasi

Menulis

Memproduksi

Mereparasi



Memproses





Mengaitkan

Menampilkan



Mensuimulasikan

Menyiapkan



Memecahkan

Memproduksi



Mel.akukan

Merangkum



Mentabulasi

Merekonstruksi



Menyusun





Memproses





meramalkan










DAFTAR PUSTAKA
Majid, Abdul. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya